Jumat, 16 Desember 2011

Teori Humanistik


A. Pengertian Belajar menurut Teori Humanistik
Menurut teori ini, proses belajar harus dimulai dan ditujukan untuk memanusiakan manusia dan mengangkat manusia ke taraf insani. Pendidikan adalah usaha membawa manusia dari kebodohan dengan membuka tabir aktual transenden dari sifat alami manusia (humannes).[1] Teori ini lebih mementingklan isi yang dipelajari dari pada proses belajar itu sendiri. Teori ini lebih banyak membicarakan tentang konsep-konsep pendidikan untuk membentuk manusia yang dicita-citakan. Oleh karena itu, teori belajar apapun bisa dimanfaatkan asal tujuannya untuk memanusiakan manusia yaitu mencapai aktualisasi diri, pemahaman diri, serta realisasi diri orang yang belajar bisa tercapai secara optimal.
1.    Awal Timbulnya Psikologi Humanistik
Pada akhir tahun 1940-an muncul suatu perspektif psikologi baru. Orang-orang yang terlibat dalam psikologilah yang berjasa dalam perkembangan ini, seperti ahli-ahli psikologi klinik, pekerja-pekerja sosial dan konseler, bukan merupakan hasil penelitian dalam proses belajar. Gerakan ini berkembang lalu dikenal sebagai psikologi Humanistik yang berusaha memahami seseorang dari sudut pelaku (behaver) dan pengamat (observer)
Dalam dunia pendidikan, aliran Humanistik muncul pada tahun 1960-1970-an dan mungkin perubahan-perubahan dan inovasi yang terjadi selama dua dekade yang terakhir pada abad 20 ini juga manuju pada arah ini.
B. Tokoh-Tokoh Humanistik
Berikut ini akan kami paparkan beberapa tokoh yang sangat terkenal dalam aliran humanistik ini berikut pandangan mereka terhadap belajar. Mereka adalah:
1.Combs
Para ahli humanistik melihat adanya dua bagian dalam belajar, yaitu perolehan informasi baru dan personalisasi informasi tersebut pada individu. Combs berpendapat bahwa suatu hal yang sangat penting bagi seorang guru adalah bagaimana caranya bisa membawa siswa untuk memperoleh arti bagi pribadinya dari bahan pelajarannya serta bagaimana siswa dapat menghubungkan bahan pelajarannya dengan kehidupannya.
Lebih jelasnya menurut Combs, jika kita memahami perilaku seseorang, kita harus memahami dunia persepsi orang itu. Jika kita ingin mengubah perilaku seseorang, kita harus mengubah keyakinan atau pandangan orang itu. Jika seorang guru mengeluh karena siswanya tidak punya motivasi untuk melakukan sesuatu, ini sesungguhnya berarti bahwa siswa tersebut tidak punya motivasi untuk melakukan sesuatu yang dikehendaki oleh gurunya.
2.    Maslow
Teori ini didasarkan atas asumsi bahwa dalam diri manusia ada dua hal, yaitu;
1.    suatu usaha yang positif untuk berkembang
2.    kekuatan untuk melawan atau menolak perkembangan itu
Menurut Maslow, setiap orang memiliki rasa takut, seperti takut untuk berusaha atau berkembang, takut mengambil kesempatan, takut membahayakan apa yang sudah dimiliki, dsb. tetapi hal itu mendorongnya untuk bisa maju ke arah kesempurnaan, kepercayaan diri dan pada saat itu juga dia dapat menerima diri sendiri.
Mengenahi kebutuhan manusia, Maslow membaginya menjadi bermacam-macam hierarki. Jika kebutuhan yang pertama (fisiologis) sudah dipenuhi, barulah seseorang dapat menginginkan kebutuhan yang ada di atasnya (mendapat rasa aman) hierarki kebutuhan manusia ini mempunyai implikasi yang sangat penting yang harus diperhatikan oleh seorang guru ketika dia mengajar, karena perhatian dan motivasi anak didik tidak akan berkembang jika kebutuhan dasarnya belum terpenuhi.
3.      Rogers
Dalam bukunya yang berjudul freedom to learn, dia memaparkan prinsip-prinsip belajar Humanistik yang sangat penting, yaitu;
1.    Manusia mempunyai kemampuan untuk belajar secara alami
2.    Belajar yang signifkan terjadi apabila subject matter dirasakan murid mempunyai relevansi dengan maksud-maksudnya sendiri
3.    Belajar yang menyangkut suatu perubahan di dalam persepsi mengenai dirinya sendiri dianggap mengancam dan cenderung untuk ditolaknya.
4.    Tugas-tugas belajar yang mengancam diri lebih mudah dirasakan dan diasimilasikan jika ancaman dari luar semakin kecil.
5.    Jika ancaman terhadap diri murid rendah, pengalaman dapat diperoleh dengan berbagai cara yang berbeda-beda lalu terjadilah proses belajar.
6.    Belajar yang bermakna diperoleh siswa dengan melakukannya.
7.    Belajar diperlancar jika siswa dilibatkan dalam proses belajar dan ikut bertanggung jawab dalam proses tersebut.
8.    Belajar atas inisiatif sendiri yang melibatkan pribadi siswa seutuhnya, baik perasaan maupun intelek, merupakan cara yang dapat memberikan hasil yang mendalam dan lestari
9.    Kepercayaan pada diri sendiri, kemerdekaan, kreativitas, lebih mudah dicapai terutama ketika siswa dibiasakan untuk mawas diri dan mengeritik dirinya sendiri. Penilaian diri orang lain merupakan cara kedua yang juga penting.
Belajar yang paling berguna secara sosial dalam dunia modern adalah belajar tentang proses belajar, suatu keterbukaan yang terus menerus terhadap pengalaman dan penyatuannya ke dalam dirinya sendiri mengenahi proses perubahan itu.

4.      Kolb
Tahap-tahap belajar , menurut Kolb dibagi menjadi 4, yaitu;
~Tahap pengalaman konkret
Tahap ini adalah tahap yang pertama, yaitu ketika seseoramg mampu mengalami, melihat, marasakan, serta dapat menceriakan peristiwa yang dialaminya apa adanya tanpa menyadari hakikat dan penyebab mengapa peristiwa tersebut bisa terjadi.
~Tahap pengamatan aktif dan reflektif
Pada tahap ini, seseorang semakin lama akan semakin mampu untuk melakukan observasi secara aktif pada peristiwa yang dialaminya dengan mengembangkan pertanyaan-pertanyaan mengapa hal itu bisa terjadi, mengapa mesti terjadi,dan lain sebagainya, sehingga pemahamannya terhadap peristiwa yang dialami semakin berkembang.
~Tahap konseptualisasi
Pada tahap ini, seseorang sudah mulai berusaha untuk membuat abstraksi, mengembangkan suatu teori, konsep, atau hukum dan prosedur tentang sesuatu yang menjadi objek perhatiannya. Berpikir induktif banyak dilakukan untuk merumuskan suatu aliran umum dari berbagai gambaran peristiwa yang dialaminya.
~Tahap eksperimentasi aktif
Pada tahap ini, seseorang sudah mampu mengaplikasikan konsep-konsep, teori-teori, dan aturan-aturan ke dalam situasi nyata. Berpikir secara deduktif banyak digunakan untuk mempraktekkan dan menguji teori-teori dan konsep-konsep di lapangan sehingga dia mampu memecahkan masalah yang dihadapinya.
5.    Honey dan Munford
Menurut pandangan mereka berdua, orang yang belajar dapat digolong-golongkan ke dalam empat macam golongan,[2] yaitu:
1.      Kelompok aktivis
Mereka adalah orang-orang yang suka melibatkan diri dan berpartisipasi aktif dalam berbagai kegiatan dengan tujuan untuk memperoleh pengalaman. Dalam kegiatan belajar, mereka suka pada penemuan-penemuan baru, sehingga metode yang cocok buat mereka adalah problem solving, brainstorming.

2.      Kelompok reflektor
Mereka adalah orang-orang yang memiliki kecenderungan yang berlawanan dengan kelompok aktivis. Dalam melakukan tindakan, mereka sangat berhati-hati dan penuh pertimbangan antara baik dan buruknya, untung dan ruginya. Mereka tidak mudah dipengaruhi, sehingga mereka cenderung bersifat konservatif
3.      Kelompok teoris
Mereka adalah orang-orang yang suka berpikir kritis, suka menganalisis, dan selalu berpikir rasional dengan menggunakan penalarannya. Mereka tidak suka pendapat atau penilaian yang sifatnya subjektif. Mereka tampak tegas dan memiliki pendirian yang kuat sehingga mereka tidak mudah dipengaruhi.
4.    Kelompok pragmatis
Mereka adalah orang-orang yang memiliki sifat-sifat praktis, tidak suka teori, konsep, dalil, dsb. Bagi mereka yang penting adalah aspek-aspek praktis, sesuatu yang nyata dan dapat dilaksanakan. Bagi mereka, sesuatu itu dianggap baik, jika dapat dipraktekkan dan bermanfaat bagi kehidupan manusia.

6.    Hubermas
Menurut Hubermas, belajar baru akan terjadi jika ada interaksi antara individu dengan lingkungannya. Oleh karena itu, dia membagi tipe belajar menjadi tiga, yaitu:1) belajar teknis, 2) belajar praktis, 3) belajar emansipatoris

7.    Bloom dan Krathwohl
Mereka berdua lebih menekankan perhatiannya pada apa yang mesti dikuasai oleh individu sebagai tujuan belajar, setelah melalui peristiwa-peristiwa belajar. Tujuan belajar yang dikemukakannya terangkum dalam tiga kawasan yang dikenal dengan dengan istilah Taksonomi Bloom.
 Secara ringkas tiga kawasan taksonomi Bloom tersebut adalah sebagai berikut:
1.      Domain Kognitif, yang terdiri atas enam tingkatan, yaitu pengetahuan, pemahaman, aplikasi, analisis, sintesis, dan evaluasi.
2.      Domain psikomotor, yang terdiri atas lima tingkatan, yaitu peniruan, penggunaan, ketepatan, perangkaian, dan naturalisasi.
3.      Domain efektif, yang juga terdiri atas lima tingkatan.

C. Implikasi Teori Humanistik
Menurut aliran ini, penyusunan dan penyajian materi oleh pendidik harus sesuai dengan perasaan dan perhatian siswa. Dalam hal ini peran pendidik adalah untuk membantu siswa mengembangkan dirinya, yakni mengenal diri mereka sebagai makhluk yang unik serta membantu mereka untuk bisa mengembangkan potensinya.
 Guru sebagai fasilitator
Dalam proses belajar mengajar, seorang guru hendaknya menjadi fasilitator bagi anak didiknya, bukan malah menjadi dictator. Ada beberapa cara untuk memberi kemudahan belajar dan kualitas fasilitator. Diantaranya, seorang guru yang dalam hal ini menjadi fasilitator sebaiknya memberi perhatian kepada penciptaan suasana awal atau pengalaman kelas, mempercayai adanya keinginan dari setiap siswa untuk melaksanakan tujuan yang bermakna bagi dirinya dan menyediakan sumber-sumber yang bisa dimanfaatkan oleh siswa, dan masih banyak cara yang lain. Di samping itu, sebagai seorang fasilitator, guru harus mengenali dan menerima keterbatasan-keterbatasannya sendiri.

D. Aplikasi Teori Humanistik dalam pendidikan
Dalam proses belajar mengajar yang menggunakan teori humanistik ini sangat membutuhkan keterlibatan siswa secara aktif serta mengarahkan siswa untuk berpikir induktif. Berikut ini kami kemukakan beberapa langkah secara humanistik, yaitu:
1.      menentukan tujuan pembelajaran
2.      menentukan materi pelajaran
3.      mengidentifikasi kemampuan awal siswa
4.      mengidentifikasi topik-topik pelajaran merancang fasilitas belajar dan media pembelajaran
5.      membimbing siswa belajar secara aktif
6.      membimbing siswa untuk dapat memahami makna dari pengalaman belajarnya
7.      membimbing siswa membuat konseptualisasi pengalaman belajarnya
8.      membimbing siswa mengaplikasikan konsep baru ke dalam situasi nyata
9.      mengevaluasi proses dan hasil belajar
Di samping itu, ada beberapa pendekatan secara humanistik yang bisa di simpulkan sebagai berikut ;
1.      Siswa akan berpikir menurut iramanya sendiri dengan perangkat materi yang sudah ditentukan terlebih dulu untuk mencapai tujuan yang telah ditentukan pula, selanjutnya siswa bebas menentukan cara mereka sendiri untuk mencapai tujuan tersebut tanpa terikat dengan aturan-aturan baik dari guru atau dari temannya.
2.      Memperhatikan pengembangan anak-anak dari perbedaan-perbedaan yang bersifat individual.
3.      Mengimbangi keadaan-keadaan baru yang selalu meningkat yang dijumpai anak didik baik di rumah mereka sendiri atau di masyarakat.

Lebih lanjutnya, pendekatan humanistik adalah pengembangan nilai-nilai dan sikap pribadi yang dikehendaki secara sosial dan perolehan pengetahuan yang luas tentang sejarah, sastra, dan pengolahan strategi berpikir produktif.


ANALISA
Diantara tujuan pendidikan adalah bagaimana agar siswa mampu mengaktualisasikan dirinya dengan memanfaatkan bakat, kapasitas, dan potensinya sehingga dapat memenuhi diri dan dapat melakukan yang terbaik. Pendidikan yang Humanis sangat membantu dalam hal ini, dimana seorang pendidik akan memahami arah belajar pada dimensi yang luas sehingga metode apapun akan dia lakukan demi tercapainya tujuan yang dimaksud. Di samping itu, sistem dan proses pendidikan yang Humanis menjadi alternatif untuk memperbaiki sistem pendidikan yang pada mulanya dipenuhi kekerasan dan penindasan yang dapat mematikan bakat siswanya.
Namun demikian, teori ini mendapat kritik banyak karena sulit diterapkan secara praktis. Teori ini lebih mengarah ke bidang filsafat, dan psikoterapi sehingga sukar untuk diterjemahkan ke dalam langkah yang konkrit dan praktis. Teori ini menjadi sulit jika diterapkan di kelas karena dalam teori humanistik ini anak diberi kesempatan untuk berkembang tanpa terikat oleh aturan. Hal ini akan sulit jika kegitan belajar yang mengunakan teori ini dilakukan di kelas yang terikat dengan ruang yang sempit dimana dalam satu ruang tersebut terdapat tujuan belajar dan pemikiran yang berbeda antar masing-masing individu sehingga hal ini menimbulkan ketidak teraturan dalam kelas itu sendiri.
Kelemahan lain dari penerapan teori ini adalah berkurangnya rasa hormat anak didik pada gurunya karena dalam penerapan teori ini guru seakan-akan seperti temannya sendiri dimana anak bebas mengkritik gurunya, karena dia bukan hanya menjadi objek melainkan dia juga bisa menjadi subjek bagi gurunya.




1 komentar:

  1. lumayan menarik
    hanya saja ada beberapa yang saya tidak mengerti seperti "Orang-orang yang terlibat dalam psikologilah yang berjasa dalam perkembangan ini, seperti ahli-ahli psikologi klinik, pekerja-pekerja sosial dan konseler, bukan merupakan hasil penelitian dalam proses belajar" trus dalam proses apalagi selain proses belajar?
    oh ya, tulisannya banyak di pendapat para ahli dan teori2 akan tetapi analisanya dikit.

    BalasHapus