A. Pengertian Belajar
menurut Teori Humanistik
Menurut teori ini,
proses belajar harus dimulai dan ditujukan untuk memanusiakan manusia dan
mengangkat manusia ke taraf insani. Pendidikan adalah usaha membawa manusia
dari kebodohan dengan membuka tabir aktual transenden dari sifat alami manusia
(humannes).[1] Teori ini lebih mementingklan isi yang
dipelajari dari pada proses belajar itu sendiri. Teori ini lebih banyak
membicarakan tentang konsep-konsep pendidikan untuk membentuk manusia yang
dicita-citakan. Oleh karena itu, teori belajar apapun bisa dimanfaatkan asal
tujuannya untuk memanusiakan manusia yaitu mencapai aktualisasi diri, pemahaman
diri, serta realisasi diri orang yang belajar bisa tercapai secara optimal.
1.
Awal Timbulnya Psikologi Humanistik
Pada
akhir tahun 1940-an muncul suatu perspektif psikologi baru. Orang-orang yang
terlibat dalam psikologilah yang berjasa dalam perkembangan ini, seperti
ahli-ahli psikologi klinik, pekerja-pekerja sosial dan konseler, bukan
merupakan hasil penelitian dalam proses belajar. Gerakan ini berkembang lalu
dikenal sebagai psikologi Humanistik yang berusaha memahami seseorang dari
sudut pelaku (behaver) dan pengamat (observer)
Dalam
dunia pendidikan, aliran Humanistik muncul pada tahun 1960-1970-an dan mungkin
perubahan-perubahan dan inovasi yang terjadi selama dua dekade yang terakhir
pada abad 20 ini juga manuju pada arah ini.
B. Tokoh-Tokoh Humanistik
Berikut ini akan
kami paparkan beberapa tokoh yang sangat terkenal dalam aliran humanistik ini
berikut pandangan mereka terhadap belajar. Mereka
adalah:
1.Combs
Para
ahli humanistik melihat adanya dua bagian dalam belajar, yaitu perolehan
informasi baru dan personalisasi informasi tersebut pada individu. Combs
berpendapat bahwa suatu hal yang sangat penting bagi seorang guru adalah
bagaimana caranya bisa membawa siswa untuk memperoleh arti bagi pribadinya dari
bahan pelajarannya serta bagaimana siswa dapat menghubungkan bahan pelajarannya
dengan kehidupannya.
Lebih
jelasnya menurut Combs, jika kita memahami perilaku seseorang, kita harus
memahami dunia persepsi orang itu. Jika kita ingin mengubah perilaku seseorang,
kita harus mengubah keyakinan atau pandangan orang itu. Jika seorang guru
mengeluh karena siswanya tidak punya motivasi untuk melakukan sesuatu, ini
sesungguhnya berarti bahwa siswa tersebut tidak punya motivasi untuk melakukan
sesuatu yang dikehendaki oleh gurunya.
2.
Maslow
Teori ini didasarkan
atas asumsi bahwa dalam diri manusia ada dua hal, yaitu;
1.
suatu usaha yang positif untuk
berkembang
2.
kekuatan untuk melawan atau
menolak perkembangan itu
Menurut Maslow, setiap orang memiliki
rasa takut, seperti takut untuk berusaha atau berkembang, takut mengambil
kesempatan, takut membahayakan apa yang sudah dimiliki, dsb. tetapi hal itu
mendorongnya untuk bisa maju ke arah kesempurnaan, kepercayaan diri dan pada
saat itu juga dia dapat menerima diri sendiri.
Mengenahi kebutuhan manusia, Maslow
membaginya menjadi bermacam-macam hierarki. Jika kebutuhan yang pertama
(fisiologis) sudah dipenuhi, barulah seseorang dapat menginginkan kebutuhan
yang ada di atasnya (mendapat rasa aman) hierarki kebutuhan manusia ini
mempunyai implikasi yang sangat penting yang harus diperhatikan oleh seorang
guru ketika dia mengajar, karena perhatian dan motivasi anak didik tidak akan
berkembang jika kebutuhan dasarnya belum terpenuhi.
3.
Rogers
Dalam bukunya yang berjudul freedom to learn, dia memaparkan prinsip-prinsip belajar Humanistik
yang sangat penting, yaitu;
1.
Manusia mempunyai kemampuan untuk belajar secara alami
2.
Belajar yang signifkan terjadi apabila
subject matter dirasakan murid mempunyai relevansi dengan maksud-maksudnya
sendiri
3.
Belajar yang menyangkut suatu
perubahan di dalam persepsi mengenai dirinya sendiri dianggap mengancam dan
cenderung untuk ditolaknya.
4.
Tugas-tugas belajar yang mengancam diri lebih mudah dirasakan dan
diasimilasikan jika ancaman dari luar semakin kecil.
5.
Jika ancaman terhadap diri murid rendah, pengalaman dapat diperoleh
dengan berbagai cara yang berbeda-beda lalu terjadilah proses belajar.
6.
Belajar yang bermakna diperoleh siswa dengan melakukannya.
7.
Belajar diperlancar jika siswa
dilibatkan dalam proses belajar dan ikut bertanggung jawab dalam proses
tersebut.
8.
Belajar atas inisiatif sendiri
yang melibatkan pribadi siswa seutuhnya, baik perasaan maupun intelek,
merupakan cara yang dapat memberikan hasil yang mendalam dan lestari
9.
Kepercayaan pada diri sendiri,
kemerdekaan, kreativitas, lebih mudah dicapai terutama ketika siswa dibiasakan
untuk mawas diri dan mengeritik dirinya sendiri. Penilaian diri orang lain
merupakan cara kedua yang juga penting.
Belajar yang paling berguna secara sosial dalam dunia modern adalah
belajar tentang proses belajar, suatu keterbukaan yang terus menerus terhadap
pengalaman dan penyatuannya ke dalam dirinya sendiri mengenahi proses perubahan
itu.
4.
Kolb
Tahap-tahap belajar , menurut Kolb dibagi menjadi 4,
yaitu;
~Tahap pengalaman
konkret
Tahap ini adalah tahap yang pertama,
yaitu ketika seseoramg mampu mengalami, melihat, marasakan, serta dapat
menceriakan peristiwa yang dialaminya apa adanya tanpa menyadari hakikat dan
penyebab mengapa peristiwa tersebut bisa terjadi.
~Tahap pengamatan
aktif dan reflektif
Pada tahap ini, seseorang semakin
lama akan semakin mampu untuk melakukan observasi secara aktif pada peristiwa
yang dialaminya dengan mengembangkan pertanyaan-pertanyaan mengapa hal itu bisa
terjadi, mengapa mesti terjadi,dan lain sebagainya, sehingga pemahamannya
terhadap peristiwa yang dialami semakin berkembang.
~Tahap
konseptualisasi
Pada tahap ini, seseorang sudah mulai
berusaha untuk membuat abstraksi, mengembangkan suatu teori, konsep, atau hukum
dan prosedur tentang sesuatu yang menjadi objek perhatiannya. Berpikir induktif
banyak dilakukan untuk merumuskan suatu aliran umum dari berbagai gambaran
peristiwa yang dialaminya.
~Tahap eksperimentasi
aktif
Pada tahap ini, seseorang sudah mampu
mengaplikasikan konsep-konsep, teori-teori, dan aturan-aturan ke dalam situasi
nyata. Berpikir secara deduktif banyak digunakan untuk mempraktekkan dan
menguji teori-teori dan konsep-konsep di lapangan sehingga dia mampu memecahkan
masalah yang dihadapinya.
5.
Honey dan Munford
Menurut pandangan mereka berdua, orang yang belajar
dapat digolong-golongkan ke dalam empat macam golongan,[2] yaitu:
1.
Kelompok aktivis
Mereka adalah orang-orang yang suka
melibatkan diri dan berpartisipasi aktif dalam berbagai kegiatan dengan tujuan
untuk memperoleh pengalaman. Dalam kegiatan belajar, mereka suka pada
penemuan-penemuan baru, sehingga metode yang cocok buat mereka adalah problem solving, brainstorming.
2.
Kelompok reflektor
Mereka adalah orang-orang yang memiliki
kecenderungan yang berlawanan dengan kelompok aktivis. Dalam melakukan
tindakan, mereka sangat berhati-hati dan penuh pertimbangan antara baik dan
buruknya, untung dan ruginya. Mereka tidak mudah dipengaruhi, sehingga mereka
cenderung bersifat konservatif
3.
Kelompok teoris
Mereka adalah orang-orang yang suka
berpikir kritis, suka menganalisis, dan selalu berpikir rasional dengan
menggunakan penalarannya. Mereka tidak suka pendapat atau penilaian yang
sifatnya subjektif. Mereka tampak tegas dan memiliki pendirian yang kuat
sehingga mereka tidak mudah dipengaruhi.
4.
Kelompok pragmatis
Mereka adalah orang-orang yang memiliki
sifat-sifat praktis, tidak suka teori, konsep, dalil, dsb. Bagi mereka yang
penting adalah aspek-aspek praktis, sesuatu yang nyata dan dapat dilaksanakan.
Bagi mereka, sesuatu itu dianggap baik, jika dapat dipraktekkan dan bermanfaat
bagi kehidupan manusia.
6.
Hubermas
Menurut Hubermas,
belajar baru akan terjadi jika ada interaksi antara individu dengan lingkungannya.
Oleh karena itu, dia membagi tipe belajar menjadi tiga, yaitu:1) belajar
teknis, 2) belajar praktis, 3) belajar emansipatoris
7.
Bloom dan Krathwohl
Mereka berdua lebih menekankan
perhatiannya pada apa yang mesti dikuasai oleh individu sebagai tujuan belajar,
setelah melalui peristiwa-peristiwa belajar. Tujuan belajar yang dikemukakannya
terangkum dalam tiga kawasan yang dikenal dengan dengan istilah Taksonomi
Bloom.
Secara ringkas tiga kawasan taksonomi Bloom
tersebut adalah sebagai berikut:
1.
Domain Kognitif, yang terdiri atas enam tingkatan, yaitu pengetahuan,
pemahaman, aplikasi, analisis, sintesis, dan evaluasi.
2.
Domain psikomotor, yang terdiri atas lima tingkatan, yaitu peniruan,
penggunaan, ketepatan, perangkaian, dan naturalisasi.
3.
Domain efektif, yang juga terdiri atas lima tingkatan.
C. Implikasi Teori Humanistik
Menurut aliran ini,
penyusunan dan penyajian materi oleh pendidik harus sesuai dengan perasaan dan
perhatian siswa. Dalam hal ini peran pendidik adalah untuk membantu siswa
mengembangkan dirinya, yakni mengenal diri mereka sebagai makhluk yang unik
serta membantu mereka untuk bisa mengembangkan potensinya.
Guru sebagai fasilitator
Dalam proses belajar
mengajar, seorang guru hendaknya menjadi fasilitator bagi anak didiknya, bukan
malah menjadi dictator. Ada beberapa cara untuk memberi kemudahan belajar dan
kualitas fasilitator. Diantaranya, seorang guru yang dalam hal ini menjadi
fasilitator sebaiknya memberi perhatian kepada penciptaan suasana awal atau
pengalaman kelas, mempercayai adanya keinginan dari setiap siswa untuk
melaksanakan tujuan yang bermakna bagi dirinya dan menyediakan sumber-sumber
yang bisa dimanfaatkan oleh siswa, dan masih banyak cara yang lain. Di samping
itu, sebagai seorang fasilitator, guru harus mengenali dan menerima
keterbatasan-keterbatasannya sendiri.
D. Aplikasi Teori Humanistik dalam pendidikan
Dalam proses belajar
mengajar yang menggunakan teori humanistik ini sangat membutuhkan keterlibatan
siswa secara aktif serta mengarahkan siswa untuk berpikir induktif. Berikut ini kami kemukakan beberapa langkah secara humanistik,
yaitu:
1.
menentukan tujuan pembelajaran
2.
menentukan materi pelajaran
3.
mengidentifikasi kemampuan awal
siswa
4.
mengidentifikasi topik-topik pelajaran merancang fasilitas belajar dan
media pembelajaran
5.
membimbing siswa belajar secara
aktif
6.
membimbing siswa untuk dapat
memahami makna dari pengalaman belajarnya
7.
membimbing siswa membuat
konseptualisasi pengalaman belajarnya
8.
membimbing siswa
mengaplikasikan konsep baru ke dalam situasi nyata
9.
mengevaluasi proses dan hasil
belajar
Di samping itu, ada
beberapa pendekatan secara humanistik yang bisa di simpulkan sebagai berikut ;
1.
Siswa akan berpikir menurut iramanya sendiri dengan perangkat materi
yang sudah ditentukan terlebih dulu untuk mencapai tujuan yang telah ditentukan
pula, selanjutnya siswa bebas menentukan cara mereka sendiri untuk mencapai
tujuan tersebut tanpa terikat dengan aturan-aturan baik dari guru atau dari
temannya.
2.
Memperhatikan pengembangan
anak-anak dari perbedaan-perbedaan yang bersifat individual.
3.
Mengimbangi keadaan-keadaan
baru yang selalu meningkat yang dijumpai anak didik baik di rumah mereka
sendiri atau di masyarakat.
Lebih lanjutnya, pendekatan humanistik adalah
pengembangan nilai-nilai dan sikap pribadi yang dikehendaki secara sosial dan
perolehan pengetahuan yang luas tentang sejarah, sastra, dan pengolahan
strategi berpikir produktif.
ANALISA
Diantara tujuan pendidikan adalah bagaimana agar siswa
mampu mengaktualisasikan dirinya dengan memanfaatkan bakat, kapasitas, dan
potensinya sehingga dapat memenuhi diri dan dapat melakukan yang terbaik.
Pendidikan yang Humanis sangat membantu dalam hal ini, dimana seorang pendidik
akan memahami arah belajar pada dimensi yang luas sehingga metode apapun akan
dia lakukan demi tercapainya tujuan yang dimaksud. Di samping itu, sistem dan
proses pendidikan yang Humanis menjadi alternatif untuk memperbaiki sistem
pendidikan yang pada mulanya dipenuhi kekerasan dan penindasan yang dapat
mematikan bakat siswanya.
Namun demikian,
teori ini mendapat kritik banyak karena sulit diterapkan secara praktis. Teori
ini lebih mengarah ke bidang filsafat, dan psikoterapi sehingga sukar untuk
diterjemahkan ke dalam langkah yang konkrit dan praktis. Teori ini menjadi
sulit jika diterapkan di kelas karena dalam teori humanistik ini anak diberi
kesempatan untuk berkembang tanpa terikat oleh aturan. Hal ini akan sulit jika
kegitan belajar yang mengunakan teori ini dilakukan di kelas yang terikat
dengan ruang yang sempit dimana dalam satu ruang tersebut terdapat tujuan
belajar dan pemikiran yang berbeda antar masing-masing individu sehingga hal
ini menimbulkan ketidak teraturan dalam kelas itu sendiri.
Kelemahan lain dari
penerapan teori ini adalah berkurangnya rasa hormat anak didik pada gurunya
karena dalam penerapan teori ini guru seakan-akan seperti temannya sendiri
dimana anak bebas mengkritik gurunya, karena dia bukan hanya menjadi objek
melainkan dia juga bisa menjadi subjek bagi gurunya.